Penyakit TBC Masih Ada di Sekitar kita
Rabu, 10 Maret, 2021

10 Maret 2021
Di era pandemic Covid-19 yang telah menyita banyak perhatian dari seluruh negara di dunia khususnya para tenaga Kesehatan, ternyata membuat penyakit lain yang tidak kalah berbahaya menjadi tersisihkan. Salah satu penyakit tersebut adalah Tuberculosis atau biasa dikenal dengan TBC. Penyakit TBC sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dengan nama latin Mycobacterium Tuberculosis. Pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882 atau 139 tahun yang lalu. Meskipun usia penyakit ini sangat tua bila dibandingkan dengan Covid-19 tetapi pada saat ini, TBC masih menjadi momok yang menakutkan bagi dunia. 
Menurut data dari badan Kesehatan dunia atau WHO, pada tahun 2018 hingga tahun 2019, terdapat 14 juta penduduk dunia yang dirawat karena TBC dan itu hanya sepertiga dari total penduduk yang menderita TBC. Tingkat kematian akibat penyakit ini juga masih tinggi dengan kisaran 1,4 juta penduduk pada tahun 2019. Indonesia sendiri masuk ke peringkat ketiga terbesar penderita TBC dengan kasus sekitar 842 ribu kasus baru pertahunnya pada tahun 2019, setelah RRT dengan 889 ribu kasus dan India dengan 2,74 juta kasus.
Proses penyebaran kuman TBC melalui udara, saat pasien batuk atau bersin kemudian percikan dahak pasien terhirup oleh orang lain. Proses ini sangat dipengaruhi oleh ventilasi udara di ruangan tersebut dan jumlah kuman pada percikan dahak tersebut. Oleh karena itu, masyarakat perlu sadar dengan etika batuk. Etika batuk yaitu ketika kita batuk atau bersin, usahakan agar mulut dan hidung ditutup dengan alat (seperti tisu, sapu tangan atau handuk) atau dengan baju dibagian lengan atas bagian dalam, jangan menutup dengan tangan.
Gejala gejala penyakit ini yang perlu kita waspadai adalah, yang pertama batuk lama dengan durasi lebih dari 2 minggu, disertai penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, penurunan nafsu makan, demam, terdapat keringat saat malam hari dan yang paling penting ada riwayat kontak terhadap pengidap TBC.
Penyakit TBC biasanya menyerang organ paru paru, tetapi ada sebagian kasus dimana kuman TBC menyerang organ lain, ini yang dinamakan TB ekstra paru. Angka kejadian dari TB ekstra paru adalah 5 sampai 30 persen dari semua kejadian penyakit TBC. Organ yang dapat diserang oleh kuman TB antara lain, kelenjar getah bening, tulang, otak dan selaputnya, usus, tenggorokan, ginjal, kulit, rahim hingga payudara. Untuk gejala yang terjadi dari TB ekstra paru itu tergantung dari organ yang terkena.
Meskipun angka kematian dari TBC sendiri termasuk tinggi, tetapi penyakit ini dapat disembuhkan. Namun harus disertai dengan niat dan kemauan yang keras dari penderita. Mengapa demikian? Karena pengobatan TBC dilakukan dalam waktu 6-9 bulan dan obat harus diminum setiap hari. Jika pengobatan tidak dilakukan secara full atau pasien tidak patuh dalam mengikuti arahan dari dokter, maka yang terjadi adalah resistensi obat atau Multi Drugs Resistance TB (MDR TB). Untuk pengobatan MDR TB tidak mudah dan persentasi kesembuhan juga menurun. Untuk pengobatan TB ekstra paru lebih lama dibandingkan dengan TB paru, yaitu 9 sampai 12 bulan.
Selain itu, pemerintah Indonesia sudah mencanangkan program bebas TBC pada tahun 2050. Sehingga diharapkan masyarakat semakin mengenali dan waspada terhadap penyakit TBC. Langkah Langkah yang bisa kita lakukan untuk menghindari terpapar dari kuman TBC antara lain.
1. Rajin mencuci tangan sebelum dan setelah makan, setelah buang air dan setelah beraktivitas di luar rumah.
2. Membuat lingkungan rumah atau kantor atau sekolah menjadi terbuka sehingga sirkulasi udara dan ventilasi bisa berjalan secara baik.
3. Meningkatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, melakukan aktivitas fisik secara rutin tetapi tidak memberatkan tubuh, dan mengurangi paparan polusi (seperti rokok, asap kendaraan, asap pabrik)
4. Jika ada keluarga atau teman yang menderita TBC, minimalkan kontak dengan yang bersangkutan tetapi jangan dijauhi atau dibenci. Harus tetap disuport karena pengobatan TBC sangat lama dan melelahkan bagi penderita.
5. Jika anda terkena gejala gejala seperti diatas, maka harap segera ke fasilitas kesehatan terdekat.
 
Share on Facebook